Tim Peneliti Tsunami UB sendiri terdiri atas Arief Andy Subroto, ST., Mkom dosen PTIK, Dr. Sunaryo, S.Si., M.Si dosen FMIPA, Dr. Ery Suhartanto, ST., MT dosen Teknik Pengairan UB. Kemudian dibantu oleh 4 asisten yang berasal dari civitas akademisi dan Mahasiswa UB serta bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang.
TEWS sendiri dibagi menjadi dua alat. Yakni, Stasiun Pantau yang berfungsi menangkap sinyal jika ditemukan data getaran minimal 6 skala richterer dan penurunan tinggi air laut secara tajam setinggi 2 meter dalam tempo yang singkat. Alat ini dilengkapi oleh sensor ketinggian air laut dan sensor getaran. Sedangkan Stasiun Alarm berfungsi sebagai penerima sinyal maksimal sejauh 9 km bila tidak ada halangan dari stasiun pantau dan akan mengaktifkan lampu rotari, sirine serta memberikan SMS kepada server, BPBD, dan perwakilan warga setempat akan peringatan tanda bahaya tsunami.
Stasiun pantau diletakkan sejauh kurang lebih 500 meter dari pemukiman warga. Sementara stasiun alarm diletakan di gardu warga. Setelah alat sudah siap, tim mencoba mengirimkan sinyal akan surutnya air laut dan getaran yang direkayasa melalui Radio Frequency. Hasilnya, stasiun alarm menerima sinyal sehingga sirine dan lampu rotari bekerja meskipun suara sirine kurang maksimal akibat reduksi suara gelombang ombak dan angin. Juga, sinyal dari stasiun pantau mengirimkan pesan kepada ponsel tim peneliti.
Dengan demikian, warga memiliki durasi waktu 15 menit untuk menyelamatkan diri. Sebab TEWS aktif pada menit pertama dari 15 menit gejala tsunami yang dideteksi alat ini.
Tidak ada komentar...Leave one now